Restarting From The Starch

 Assalamualaikum. Gimana hari Minggu kamu?

Kamu pernah nggak sih, ngerasa kehilangan diri sendiri? Sejak aku divonis Depresi Mayor dan Anxiety Dissorder Juni 2022 lalu, aku masih merasa nggak tahu harus ke mana. He he... Ketawain aja sih walaupun tetap saja takut waktuku di dunia keburu habis.

Apa yang membuatku menyandang Depresi Mayor?

Konon, aku terbiasa memendam perasaanku sendiri. Aku bingung dengan perasaan yang bahkan tidak tervalidasi. Beruntunglah kamu yang tumbuh di lingkungan yang baik untu pertumbuhan dan perkembanganmu. Karena nggak semua orang bisa punya.

Kita nggak bisa memilih untuk tumbuh di lingkungan seperti apa dan tentu saja nggak semua "cocok" dengan lingkungannya. Banyak orang sepertiku yang realitanya di lingkungan yang keras dan tegas, namun hatinya ingin dipukpuk inner child - nya.

Di usiaku sekarang, aku baru bisa lebih lapang dengan keadaan. Bisa nerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Walaupun entah kenapa ya nerima diri sendiri itu rasanya lebih sulit dan berat?

" Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui ” (QS. Al - Baqarah : 216)

Aku sok mengutip ayat al - quran padahal saat ini aku sedang kembali menjadi seorang hamba yang hanya ingin mencintai Tuhan dengan sederhana dan penuh sukacita. Bukan lagi idealis dan ambisius seperti masih muda dulu.

Di usia dan status sekarang, ibu dengan dua anak, aku hanya ingin semuanya baik - baik saja, tercukupi, dan damai. Aku percaya, masalah akan selalu ada. Namun aku hanya ingin memastikan itu memang masalah yang perlu kulalui untuk bisa naik kelas dalam hidup. Bukan masalah yang nggak penting.

Selama usia masih ada, aku ingin menjadi orang yang baik, cerdas, kuat mental dan fisiknya, kuat karakternya, kuat manfaatnya, kuat finanasialnya, dan kuat keimanannya. Masih jauh, aku sedang berusaha.

Aku berusaha mengumpulkan serpihan diriku yang sudah lama usang. Aku terlalu fokus dengan keluargaku hingga aku melupakan diriku sendiri. Terutama sejak punya anak, aku nggak ingat lagi siapa dan bagaimana diriku.

Lalu, Allah menggerakanku kepada hal - hal yang identik denganku dulu. Hobi, orang yang kujadikan teladan, kertas - kertas usang tempatku menuangkan isi kepala dan cita - cita, dan hal lain semacam itu.

Hingga aku terngiang ucapan Papa, " Kamu berhak dapet yang terbaik. "

Yup, aku berhak. Jadi, mari kita sambut musim semi dan kembali menjadi pribadi yang penuh semangat!

Saling mengingatkan, Ya!

See you!

Comments